Deradikalisasi Islam Melalui Peran Pesantren

Badi`ati, Alfi Qonita (2021) Deradikalisasi Islam Melalui Peran Pesantren. UNSPECIFIED.

[img] Text
B. BUKU DERADIKALISME ISLAM MELALUI PERAN PESANTREN.pdf

Download (1MB)

Abstract

Kekerasan atas nama agama semakin menjamur terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Reformasi politik dan demokratisasi menjadikan lahirnya bermacam organisasi dan perkumpulan politik. Berakhirnya rezim Orde Baru membawa arus perubahan demokratisasi yang diikuti dengan terciptanya ruang kebebasan pers, aksi, dan gerakan protes sosial semakin bebas. Banyak hal ikut berubah seiring dengan dimulainya pemilu tahun 1999 yang lebih demokratis. Hal ini juga berdampak dengan lahirnya kebebasan bagi berdirinya organisasi￾organisasi dengan corak ideologis dan keyakinan beraneka ragam. Termasuk di dalamnya adalah lahirnya berbagai organisasi Islam yang bercorak radikal. Adanya kelompok Islam Puritan menyisakan persoalan kemasyarakatan di Indonesia yang berlatar belakang kebinekaan (Eliraz, 2007: 2). Sering kali sikap intoleran terhadap pemeluk agama lain, atau pemikiran yang berbeda menimbulkan kegelisahan di masyarakat. Corak keberislaman yang menunjukkan sikap fanatik dan ekslusif sering memaksakan pemahaman dan menganggap golongannya paling benar. Sikap tersebut melahirkan radikalisme dalam beragama dan akan menjadi bahaya ketika dipaksakan pada pemeluk agama lain. Berbagai aksi sweeping atribut non-muslim yang dikenakan muslim pada saat peringatan hari besar agama lain, gerakan anti maksiat yang berujung anarkis, saling tuduh mengkafirkan, membid’ahkan, dan segala aksi reaksi yang berbuntut pada tindakan ekstrim yang mengatasnamakan jihad fisabilillah. Gerakan Islam radikal selalu ada hubungannya dengan pemahaman mereka mengenai ayat-ayat jihad dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Menurut Teori Kekuasaan, gerakan radikal juga selalu berhubungan dengan agenda politik praktis atau politik kekuasaan mempertahankan atau menghancurkan kekuasaan yang dinilai menghalangi tercapainya agenda politik mereka. Dalam rangka merebut kekuasaan, atau mendirikan Negara Islam mereka tidak segan-segan untuk menggunakan berbagai cara termasuk cara-cara kekerasan dan tindakan kriminal. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada masa sekarang. Sejarah mencacat, hal tersebut sudah terjadi pasca wafatnya Rasulullah SAW. Banyak faktor yang bisa membentuk karakteristik seseorang menjadi radikal, seperti faktor pendidikan, ekonomi, lingkungan termasuk ideologi politik yang berkembang dilingkungannya. Dengan asumsi bahwa radikalisme dan terorisme juga disebabkan oleh paham keagamaan yang keliru. Hal ini juga bisa terjadi karena munclnya paradigma berfikir yang dibentuk oleh tafsir literal. Munculnya beberapa kelompok yang kemudian memproklamirkan diri mereka menjadi nabi baru, juga ditelusuri banyak yang memakai tafsir literal tekstual. Sikap demikian tentunya tidak bisa lepas dari cara pandang terhadap doktrin suatu ajaran. Cara pandang tersebut tidak bisa lepas dari pendidikan yang diterima, atau paling tidak dari hasil diseminasi atas bacaan tentang sesuatu ajaran yang dipelajarinya. Dari sini nampaknya pendidikan merupakan entitas terpenting dalam pembentukan karakter dan sikap keagamaan seseorang. penelitian akan memfokuskan pada pengajaran atau paham keagamaan yang dikembangkan dalam pesantren. Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang menjadi ciri khas Islam tradisional Indonesia. Eksistensi keberadaan masyarakat Islam di Indonesia berkaitan erat dengan adanya proses asimilasi, akulturasi, dan sincretisme. Proses Islamisasi terjadi melalui pendekatan dan penyesuaian dengan unsur-unsur kepercayaan yang sudah ada sebelumnya. Proses ini melalui berbagai macam cara antara lain melalui perdagangan, perkawinan, pondok pesantren, kebudayaan, dan kesenian. Dalam hal ini, pesantren memiliki peran penting sebagai tempat belajar dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam Diantara institusi yang dianggap mampu menjawab persoalan keagamaan yang terus berkembang di Indonesia ini adalah pesantren. Dalam realitasnya, Pesantren masih tetap eksis dalam dinamika modernitas. Pesantren telah mampu menunjukkan dirinya sebagi lembaga yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri. Pendidikan di pesantren berperan besar dalam pembangunan karakter di Indonesia. Pondok pesantren selama ini telah teruji sebagai lembaga yang turut membentuk akhlaq dan kepribadian bangsa. Nilai-nilai tersebut merupakan hasil dialektika yang dinamis antara nilai-nilai keagamaan yang bersumber pada teks yang diajarkan di dalamnya.

Item Type: Book
Subjects: Agama > Keislaman
Depositing User: Unnamed user with email bimoharyosetyoko@iainsalatiga.ac.id
Date Deposited: 03 May 2021 12:35
Last Modified: 03 May 2021 12:35
URI: http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/id/eprint/10730

Actions (login required)

View Item View Item