Menabur Benih Islam Salafi di Pedesaan (Studi Etnografi di Kelurahan Tingkir Lor, Salatiga dan Desa Tegal Waton Kabupaten Semarang)

Zumrotun, Siti (2010) Menabur Benih Islam Salafi di Pedesaan (Studi Etnografi di Kelurahan Tingkir Lor, Salatiga dan Desa Tegal Waton Kabupaten Semarang). Project Report. IAIN Salatiga, IAIN Salatiga.

[img] Text
A.Upload.Menabur Benih.pdf

Download (792kB)
Official URL: http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id

Abstract

Fenomeno keagamaan seakan menjadi lahan yang tak pernah kering dari kajian oleh beberapa pihak. Hal ini tentu terkait dengan kompleksitas dari apa yang sering disebut orang sebagai akar agama. Begitu kompleksnya sehingga tafsir beragam terhadap agama hampir tidak ditemukan. Pernak pernik budaya lokal, tingkat religiusitas literacy pemeluk agama, kondisi psikologis tertentu maupun friksi-friksi politik secara lokal maupun global seakan mewarnai ragam tafsir terhadap teks agama yang pada gilirannya membuat fenomena keberagamaan sendiri kaya dengan daya tariknya. Fenomena yang menarik untuk dikaji dan mejadi fokus dalam penelitianini adalah komunitas salafi yang terlembaga melalui yayasan al Amin di Desa Tingkir Lor Kota Salatiga dan yayasan al Barokah ddi Tegal Waton Kabupaten Semarang. Pemilihan pada kedua desa berdasar pada karakter sosial religiusitas mereka yang relatif cukup paradox. Jika desa Tingkir lor sangat terkenal sebagai komunitas yang sangat religius dengan warna jam’iyyah NU nya, sementara desa Tegal Waton terlihat nasionalis (abangan). Penelitian ini menggunakan penelitinan kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografis. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Sedangkan untuk analisis data dengan mengorganisir file, membaca keseluruhan informasi dan memberi kode, menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti, menginterpretasi penemuan, menyajikan presentasi naratif berupa tabel, gambar atau uraian. Islam salafi yang berkembang di kedua desa tersebut memiiki kesamaan garis ideologi agama. Mereka mengembangkan pemahaman agama yang sangat literalis, skriptualis, keras dan nampak sangat kaku. Mereka memiliki karakter yang sama juga, antara lain sangat menentang kurafat/tahayul dan bid’ah, menganggap bid’a dholalah semua perkara baru yang tidak ada dalam nash syariat, tidak mengakomodasi budaya atau adat lokal,tidak mempunyai aturan dan struktur organisasi yang baku, terkesan puritan dan kurang akomodatif dengan masalah aktual progresif (kekinian). Rekruitmen anggota di Tinggkir Lor dengan cara mendirikan pondok pesantren sedangkan di Tegal Waton mendirikan sekolah formal. Kaum salafi di Tegal waton berusaha untuk membangun komunitas dengan membeli tanah secara kolektif kemudian mendirikan rumah sebagai tempat tinggal, tetapi di Tingkir Lor tidak berusaha mempengaruhi komunitas kelompok salafi untuk tinggal di Tingkir Lor. Kelompok salafi ini tidak mengenal kompromi terhadap pelaku bid’ah sehingga sikap mereka terlihat kaku, keras, merasapaling benar yang akhirnya membawa pada pola pergaulan mereka terhadap masyarakat setempat atau kelompok lain di luar salafi. Sikap tersebut memang sudah menjadi doktrin ataupun ajaran yang terkenal dengan istilah hajr mubtadi’. Sifatnya cenderung defensive terutama terhadap berbagai pembaruan dalam pemahaman keagamaan atau tradisi sosial, absolut dalam neyataka kebenaran, literal terhadap teks keagamaan, eksludif dalam pergaulan sosial dan pandangan yang negatif terhadap realitas kehidupan masyarakat yang ada. Respon masyarakat terhadap kelompok salafi ini dikategorikan menjadi tiga: menghormati, membendi (menentang),tidak menghormati dan juga tidak membenci.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: Agama > Keislaman
Agama > Aliran dan Sekte Islam
Agama > Tassawuf dan sufisme
Divisions: Fakultas Syariah
Depositing User: Unnamed user with email bimoharyosetyoko@iainsalatiga.ac.id
Date Deposited: 02 May 2018 02:35
Last Modified: 12 Feb 2019 01:27
URI: http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/id/eprint/4007

Actions (login required)

View Item View Item